Tugas Ilmu Budaya. Fenomena Cita-Cita dan Manusia





Nama : Muhammad Urwah Zhofron
NPM : 14519476
Kelas : 1PA07 Psikologi Semester 1 (ganjil)
Mata Kuliah : Ilmu Budaya
Fenomena Cita-Cita dan Manusia
Membicarai mengenai cita-cita dan manusia itu sangat luas, bisa mulai dari yang paling dasar di cita-cita manusia yang kian hari kian bergeser entah itu karena bergeseran budaya yang makin ke barat. Bisa dari kebiasaan juga, sebagaimana dulu kita di meja makan hanya untuk makan dan berbicara dengan orang tua, sekarang bergeser jadi bisa sambil main hp yang menurut saya sendiri itu kurang etis atau sopan.
Selanjutnya kalau dari cita-cita juga bisa, contohnya dulu kita rata-rata atau sebagian besar ingin jadi pilot atau dokter. Mungkin di jaman sekarang masih ada tetapi hanya sedikit, saya rasa seiring berjalannya waktu dan bergeseran budaya, anak-anak sekarang lebih ingin menjadi selebgram atau youtubers.
Tentu itu semua bukan karena tanpa alasan, pasti ada faktor-faktor yang mendukung mereka ingin bercita-cita menjadi selebgram atau youtubers. Bisa dari faktor berkembangnya teknologi dan pergeseran budaya. Di era yang sekarang ini atau yang biasa disebut generasi milineal atau yang biasa disebut juga gen z. Secara tidak sadar kita semua dituntut untuk memiliki panutan atau tokoh yang kita banggakan.
Jadi anak-anak jaman sekarang kebanyakan lebih membanggakan popularitas, dibanding passion atau kesenangan kita sendiri. Lanjut ke fenomena manusia di era sekarang ini yang makin hari makin banyak kreatifitasnya dan juga masalahnya, contohnya dari fenomena anak sd sudah berpacaran, yang dulu bahkan di jaman saya sma baru berpacaran, dan menurut anak-anak jaman sekarang adalah hal yang lumrah.
Dan menurut saya sendiri itu sangat tidak etis atau tidak layak, dimana seharusnya di umur segitu kita harusnya masih sibuk bermain dan menimba ilmu, tidak perlu cinta-cintaan dulu.
Indonesia sudah menapaki era Industri 4.0, yang antara lain ditandai dengan serba digitalisasi dan otomasi. Namun, belum semua elemen masyarakat menyadari konsekuensi logis atau dampak dari perubahan-perubahan yang ditimbulkannya. Bahkan, fakta-fakta perubahan itu masih sering diperdebatkan. Misalnya, banyaknya toko konvensional di pusat belanja (mall) yang tutup sering dipolitisasi dengan argumentasi bahwa kecenderungan itu disebabkan oleh menurunnya daya beli masyarakat. Padahal, toko-toko konvensional memang mulai menghadapi masalah serius atau minim pengunjung karena sebagian masyarakat perkotaan lebih memilih sistem belanja online. Dari beli baju, sepatu, dan buku hingga beli makanan semuanya dengan pola belanja online.

Masih ada beberapa contoh tentang dampak dari adaptasi era Industri 4.0. Misalnya, karena faktor e-banking dan pesatnya perkembangan sistem pembayaran, 30 persen pos pekerjaan pada setiap bank diprediksi akan hilang dalam beberapa tahun mendatang. Maka, akhir-akhir ini pemutusan hubungan kerja (PHK) di sektor perbankan pun tak terhindarkan. Lalu, berlakunya ketentuan e-money untuk bayar tol pun punya dampak terhadap pekerja yang selama ini melayani pembayaran tunai di semua pintu jalan tol.
Era Industri 4.0 akan terus menghadirkan banyak perubahan yang tak bisa dibendung. Karena itu, ada urgensinya jika negara perlu berupaya maksimal dan lebih gencar memberi pemahaman kepada semua elemen masyarakat tentang hakikat era Industri 4.0 dengan segala konsekuensi logisnya. Langkah ini penting karena belum banyak yang berminat memahami Industri 4.0. Masyarakat memang sudah melakoni beberapa perubahan itu, tetapi kepedulian pada tantangan di era digitalisasi dan otomasi sekarang ini pun terbilang minim.

Dalam konteks industri dan produksi, Industri 4.0 dipahami sebagai komputerisasi pabrik, atau otomasi dan rekonsiliasi data guna mewujudkan pabrik yang cerdas (smart factories). Terstruktur dalam pabrik cerdas ini adalah robot atau cyber physical system (sistem siber-fisik), Internet untuk Segala (IoT), komputasi awan (cloud), dan komputasi kognitif. Semuanya serba digital. Sistem siber-fisik mengawasi proses fisik, menciptakan salinan dunia fisik secara virtual, dan membuat keputusan yang tidak terpusat. Kemudian, melalui IoT, sistem siber-fisik berkomunikasi dan bekerja sama satu sama lain dan dengan manusia secara bersamaan. Lewat cloud, disediakan layanan internal dan lintas organisasi, yang dimanfaatkan oleh berbagai pihak di dalam rantai nilai manufaktur.

Analisis
Menurut analisa saya sendiri kita harus bisa ikut berkompetisi di era Industri 4.0 ini dan tidak boleh tertinggal oleh negara negara lain dalam persaingan. Kalau untuk masalah cita-cita dan kebudayaan sendiri kita harus menanamkan dalam diri sendiri dan tidak boleh terbawa oleh arus ataupun perkembangan jaman yang semakin hari semakin canggih.
Kalau menurut tokoh-tokoh kenegaraan sendiri ada, contohnya seperti ini. Belum lama ini, Presiden Joko Widodo juga mengungkapkan bahwa pemerintah telah mengelompokkan lima industri utama yang disiapkan untuk Revolusi Industri 4.0. "Lima industri yang jadi fokus implementasi Industri 4.0 di Indonesia yaitu industri makanan dan minuman, tekstil, otomotif, elektronik, dan kimia," kata Presiden saat membuka Indonesia Industrial Summit 2018 di Jakarta Convention Center (JCC) pada pekan pertama April 2018.
Menurut Presiden, kelima industri tersebut ditetapkan menjadi tulang punggung guna meningkatkan daya saing. Lima sektor tersebut juga dinilai Presiden akan menyumbang penciptaan lapangan kerja lebih banyak serta investasi baru berbasis teknologi. Memang, era Industri 4.0 sudah menghadirkan pabrik cerdas karena kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Namun, peluang bagi tercipta dan tersedianya lapangan kerja baru tetap terbuka.
Persiapan negara berlanjut dengan gagasan pembangunan infrastruktur digital. Saat ini, Kementerian Perindustrian bersama Kemenkominfo serta PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom) sedang melakukan mapping penerapan teknologi 5G di sejumlah kawasan industri. Sebab, sektor industri butuh konektivitas serta interaksi melalui teknologi informasi dan komunikasi yang terintegrasi dan dapat dimanfaatkan di seluruh rantai nilai manufaktur demi efisiensi dan peningkatan kualitas produk.
Sedangkan Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto sudah mengemukakan keyakinannya bahwa Indonesia berpeluang besar menjadi pemain kunci di Asia dalam implementasi Industri 4.0. Ada dua potensi nyata yang melandasi keyakinan itu, yakni pasar yang besar dan ketrampilan. Dua potensi ini mampu mendukung pengembangan era digital.

Sebab, dewasa ini jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 143 juta orang. Dan, ketrampilan generasi milenial bisa terekam pada semua perguruan tinggi atau universitas di Indonesia. Airlangga pun memastikan bahwa generasi milenial akan memainkan peran penting. Sedikitnya 49,5 persen pengguna internet berusia 19-34 tahun. Mereka berinteraksi atau melek teknologi berkat telepon pintar (smartphone).

Potensi nyata yang digambarkan Menteri Airlangga itu harus ditingkatkan dan dipertajam. Sebab, dalam fungsinya sebagai pekerja, generasi milenial dituntut untuk meningkatkan kapasitas. Tak cukup hanya dengan penguasaan teknologi, tetapi harus dilengkapi penguasaan sejumlah bahasa asing agar bisa komunikatif pada tingkat global. Peningkatan kapasitas pekerja milenial itu bisa diwujudkan melalui pelatihan, kursus dan sertifikasi. Industri dan institusi pendidikan pun harus peduli pada isu tentang peningkatan kapasitas pekerja di era Industri 4.0 ini.

Seperti diketahui, Kementerian Perindustrian sedang giat-giatnya mendorong peningkatan kompetensi sumber daya manusia (SDM) Indonesia agar menguasai teknologi digital. Salah satu cara yang dipilih adalah program vokasi SMK dan industri, serta memacu politeknik melalui program skill for competitiveness. Akan menjadi sangat ideal jika program peningkatan kompetensi SDM itu bisa masuk dalam kurikulum pendidikan sejak pendidikan dasar untuk menyiapkan generasi milenial yang kompetitif dan produktif.

Bambang Soesatyo Ketua DPR, Fraksi Partai Golkar, Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia
Sekian analisa dari saya dan beberapa tokoh-tokoh kenegaraan.q


Comments

Popular posts from this blog

Fenomena Sosial Pelanggaran Profesionalisme Yang Dilakukan Oleh Ilmuan Psikologi