Id, Ego, Super Ego Dan Hati Nurani

Muhammad Urwah Zhofron
1PA07
14519476


-Id Dengan kata lain fungsi ego adalah menyaring dorongan-dorongan yang ingin dipuaskan oleh id berdasarkan kenyataan. Dan komponen yang terakhir adalah Superego. Superego adalah suatu gambaran kesadaran akan nilai-nilai dan moral masyarakat yang ditanam oleh adat-istiadat, agama, orangtua, dan lingkungan. 

Freud mengatakan bahwa hidup psikis manusia ibarat gunung es yang terapung-apung di laut. Hanya puncaknya yang tampak di atas permukaan air, tapi sebagian besar gunung es tersebut tidak kelihatan karena terendam air laut. Hidup psikis manusia juga untuk sebagian besar tidak tampak atau tidak sadar, namun tetap merupakan kenyataan yang harus diperhitungkan. Maka dapat disimpulkan bahwa apa yang dilakukan manusia, khususnya yang diinginkan, dicita-citakan, dan dikehendaki, untuk sebagian besar tidak disadari oleh manusia itu sendiri. Freud mengenalkan paham “ketidaksadaran dinamis” dalam psikologi, yang artinya ketidaksadaran yang mengerjakan sesuatu dan tidak tinggal diam. Dengan itu ia mengadakan semacam revolusi dalam pandangan tentang manusia. Pada permulaan psikologi modern, hidup psikis disamakan begitu saja dengan kesadaran, berbeda dengan Freud yang berpendapat bahwa ada juga aktivitas-aktivitas psikis yang tidak disadari oleh subyek yang bersangkutan.
Freud memakai istilah “Id” untuk menunjukkan ketidaksadaran itu. Id adalah lapisan yang paling mendasar dalam susunan psikis manusia. Id meliputi segala sesuatu yang bersifat impersonal dan tidak disengaja dalam daya-daya mendasar yang menguasai kehidupan psikis manusia. Tentang Id berlaku: bukan aku (= Subyek) yang melakukan, melainkan ada yang melakukan dalam diri aku.

Bagi Freud, adanya Id telah terbukti terutama dengan tiga cara.
Pertama, faktor psikis yang paling jelas membuktikan adanya Id adalah mimpi. Buku pertamanya di bidang psikoanalisis justru membahas mimpi (Penafsiran Mimpi, 1990). Tentang mimpi berlaku bahwa “bukan sayalah yang bermimpi, tapi ada yang bermimpi dalam diri saya”. Bila bermimpi, si pemimpi sendiri seolah-olah hanya merupakan penonton pasif. Tontonan itu disajikan kepadanya oleh ketidaksadaran.

Kedua, adanya Id terbukti juga, jika kita mempelajari perbuatan-perbuatan yang awalnya hanya dianggap remeh dan tak memiliki arti, seperti perbuatan keliru, salah ucap, “keseleo lidah”, lupa, dan sebagainya. Menurut Freud, perbuatan-perbuatan seperti itu tidak terjadi secara kebetulan, tapi berasal dari kegiatan psikis yang tak sadar. Misalnya, Ketua DPR Austria pernah membuka sidang parlemen dengan mengetok palunya sambil berkata, “Dengan ini sidang saya tutup.” Maksudnya adalah “buka”, namun yang dikatakannya justru “tutup”. Hal itu bisa terjadi karena bagi sang ketua, sidang hari itu terasa sangat berat. Ia ingin sekali sidang itu cepat selesai. Keinginan yang tak sadar itulah yang menyebabkannya “keseleo lidah”.

Ketiga, alasan paling penting bagi Freud untuk menerima ketidaksadaran adalah pengalamannya dengan pasien-pasien yang menderita neurosis. Penyakit neurosis merupakan teka-teki medis yang besar bagi kalangan kedokteran pada waktu itu. Dari segi fisiologis, pasien-pasien itu tidak mengidap kelainan apa-apa, namun pada kenyataannya mereka mempunyai bermacam-macam gejala yang aneh. Freud menemukan bahwa neurosis disebabkan oleh faktor-faktor tak sadar. Misalnya, wanita muda berumur 21 tahun yang menderita histeria (histeria merupakan salah satu contoh neurosis) dan selama beberapa waktu tidak bisa minum, hingga terpaksa menghilangkan dahaganya dengan makan buah-buahan. Keadaan ini berlangsung selama kira-kira enam minggu, sampai pada suatu hari dalam hipnosis ia menggumam tentang guru pribadinya, seorang wanita berkebangsaan Inggris yang tidak disukainya. Dan sambil menyatakan rasa muaknya, dilukiskannya bagaimana pada suatu hari ia memasuki kamar wanita ini dan melihat di situ anjing kecilnya—binatang yang menjijikan—minum dari sebuah gelas. Pasien tidak berkata apa-apa karena ia ingin berlaku sopan. Setelah dengan hebat ia mengeluarkan kemarahannya yang sudah begitu lama disimpan dalam hati, ia minta minuman, lalu meminum banyak sekali air tanpa kesulitan dan bangun dari hipnosis dengan gelas di bibirnya. Sesudah itu, gangguan tersebut hilang sama sekali dan tidak kembali lagi. Freud menemukan bahwa pasien neurosis bisa sembuh dengan menggali kembali trauma psikis yang terpendam dalam ketidaksadarannya.

Jika dengan Id dimaksudkan ketidaksadaran, maka Id itu secara konkret terdiri dari naluri-naluri bawaan, khususnya naluri-naluri seksual (misalnya, teori tentang Oedipus Complex) serta agresif, juga keinginan-keinginan yang direpresi. Pada awalnya hidup psikis manusia terdiri dari Id saja. Pada janin yang masih dalam kandungan dan pada bayi yang baru lahir, hidup psikis seratus persen sama dengan Id. Id itu hampir tanpa struktur apa pun dan secara menyeluruh dalam keadaan kacau balau. Namun demikian, Id itulah yang menjadi bahan dasar bagi perkembangan psikis lebih lanjut. Pada mulanya Id sama sekali tidak terpengaruh oleh kontrol pihak subyek. Id hanya melakukan apa yang dia sukai. Freud mengatakan, “Id dipimpin oleh “prinsip kesenangan”. Dalam Id tidak dikenal urutan menurut waktu (timeless). Hukum-hukum logika pun tidak berlaku untuknya. Dalam mimpi sering kali kita melihat hal-hal yang sama sekali tidak logis. Dan hal yang sama dapat dikatakan tentang gejala-gejala neurosis. Walaupun faktor-faktor tak sadar memainkan peranan besar dalam neurosis, namun perlu ditekankan bahwa Id atau ketidaksadaran merupakan suatu kenyataan psikologis yang normal dan universal. Hidup psikis setiap manusia didasarkan atas Id itu.”

-Ego adalah struktur psikis yang berhubungan dengan konsep tentang diri, diatur oleh prinsip realitas     dan ditandai oleh kemampuan untuk menoleransi frustrasi. Ego diatur oleh prinsip realitas yang   berkaitan dengan apa yang praktis dan mungkin, sebagai dorongan dari id.

Ego atau Aku mulai berkembang dari Id melalui kontaknya dengan dunia luar. Aktivitas Ego bisa sadar, prasadar, maupun tidak sadar. Tapi untuk sebagian besar Ego bersifat sadar. Sebagai contoh aktivitas sadar boleh disebut: persepsi lahiriah (saya melihat pohon di situ), persepsi batiniah (saya merasa sedih), dan proses-proses intelektual. Sebagai contoh aktivitas prasadar dapat dikemukakan fungsi ingatan (saya mengingat kembali nama yang tadinya saya lupa). Dan aktivitas tak sadar dijalankan oleh Ego melalui mekanisme-mekanisme pertahanan (defence mechanisms), misalnya, orang yang dalam hati kecilnya sangat takut, namun pada kenyataannya berlagak gagah berani. Ego dikuasai oleh “prinsip realitas” (the reality principle), kata Freud, sebagaimana tampak dalam pemikiran yang obyektif, sesuai dengan tuntutan-tuntutan sosial, bersifat rasional, dan mengungkapkan diri melalui bahasa.

Jadi, prinsip kesenangan Id di sini diganti dengan prinsip realitas. Sudah merupakan tugas Ego untuk mempertahankan kepribadiannya sendiri dan menjamin penyesuaian dengan alam sekitar, juga untuk memecahkan konflik-konflik dengan realitas dan konflik-konflik dengan keinginan-keinginan yang tidak cocok satu sama lain. Ego juga mengontrol apa yang akan masuk ke dalam kesadaran dan apa yang akan dikerjakan. Akhirnya, Ego menjamin kesatuan kepribadian atau—dengan kata lain—mengadakan sintesis psikis.

-Superego adalah bagian moral atau etis dari kepribadian. Menurut referensi lain Superego  adalah   aspek kepribadian yang menampung semua standar internalisasi moral dan cita-cita yang kita peroleh   dari kedua orang tua dan masyarakat, penentuan nilai benar dan salah dalam segala sesuatu.

Superego adalah instansi terakhir yang ditemukan Freud. Lama-kelamaan ia yakin bahwa di samping Id dan Ego masih harus diterima suatu instansi lain yang seolah bertempat di atas Ego (dan karena itu dinamakan Superego), sebab bersikap kritis terhadapnya, bahkan bisa sampai menghantam. 
Superego adalah instansi yang melepaskan diri dari ego dalam bentuk observasi-diri, kritik-diri, larangan dan tindakan refleksi lainnya, dan tindakan terhadap dirinya sendiri. Superego dibentuk selama masa anak melalui jalan internalisasi (pembatinan) dari faktor-faktor represif yang dialami subyek sepanjang perkembangannya. Faktor-faktor yang pernah tampil sebagai sesuatu yang “asing” bagi si subyek, kemudian diterima olehnya dan dianggap sebagai sesuatu yang berasal dari dirinya sendiri. Larangan, perintah, anjuran, cita-cita, dan sebagainya, yang berasal dari luar (para pengasuh, khususnya orang tua), diterima sepenuhnya oleh subyek, sehingga akhirnya terpancar dari dalam. “Kamu tidak boleh mencuri!” (larangan dari orang tua) akhirnya menjadi “Aku tidak boleh mencuri.” “Anak perempuan tidak boleh memanjat pohon.” (teguran dari kakak) menjadi “Aku tidak boleh memanjat pohon, karena hal itu tidak patut untuk anak perempuan.”

Internalisasi ini adalah kebalikan dari proses psikologis yang disebut “proyeksi’. Dalam proyeksi, keadaan batin manusia diterapkan pada dunia luar. Misalnya, seseorang yang berwatak penakut, dimana saja ia akan melihat bahaya. Bila berjalan di tempat gelap pada malam hari ia akan melihat hantu. Yang dianggap “hantu” itu adalah keadaan batinnya yang diproyeksi ke luar.

Aktivitas Superego menyatakan diri dalam konflik dengan Ego, yang dirasakan dalam emosi-emosi, seperti rasa bersalah, rasa menyesal, rasa malu, dan sebagainya. Perasaan-perasaan tersebut tentu dianggap normal. Tapi bisa juga terjadi bahwa orang benar-benar disiksa oleh Superego, sehingga baginya hidup normal sudah tidak mungkin lagi. Dan perhatian Freud diarahkan ke Superego, terutama karena pengalamannya dengan kasus-kasus seperti itu.

-Antara Hati Nurani Dan Super Ego
 Sering kali hati nurani dikaitkan dengan “Superego”, bahkan tidak jarang kedua hal tersebut     disamakan begitu saja. Istilah “Superego” berasal dari Sigmund Freud (1856-1939), dokter ahli   saraf Austria yang meletakkan dasar untuk psikoanalisis. Ia mengemukakan istilah itu dalam rangka   teorinya tentang struktur kepribadian manusia. Atau lebih tepat lagi, bila dikatakan bahwa ini   merupakan teorinya yang kedua tentang struktur kepribadian, yang sejak tahun 1923 telah   menggantikan pandangannya terdahulu. Meskipun terkena kritikan, serangan, dan penolakan yang   bertubi-tubi, minat untuk psikoanalisis Freud tetap bertahan dan rasanya untuk seterusnya pun tidak   akan hilang. Dalam arti ini Freud telah menjadi seorang pengarang “klasik” tentang hidup psikis   manusia.


 Pandangan Freud tentang Struktur Kepribadian

 Tubuh kita memiliki struktur tertentu: ada kepala, kaki, lengan, dan batang tubuh. Psikis kita juga   memiliki suatu struktur, walaupun tentu tidak terdiri dari bagian-bagian dalam ruang. Struktur psikis   manusia menurut Freud meliputi tiga instansi atau tiga sistem yang berbeda. Ketiga instansi ini   masing-masing adalah Id, Ego, dan Superego. Superego berhubungan erat dengan apa yang kita   sebut dalam etika dengan nama “hati nurani”. Jadi menurut saya itu berbeda.

-Fenoma Sosial Hati Nurani
 Bagi setiap manusia jaman sekarang, karena berbagai masalah yang sedang ataupun sudah terjadi.       Masalah tersebut adalah masalah yang terjadi di bidang sosial yang akan saya highlight adalah   masalah tentang pendidikan gender, keyakinan, dan fenomena pasca-kebenaran (post-truth   phenomenon).

 “Cowok gaboleh nangis, cowok harus kuat!”

“Cewek di rumah ajalah gausah kerja tinggi-tinggi”

 Akrab dengan kalimat tersebut?
 Sebetulnya masalah terjadi saat anak dididik dengan pemaksaan opini dari orang tuanya, dan   membuat anak-anak berkembang sesuai keinginan orang tuanya, walaupun tidak bisa saya   generalisir semua pendidikan di rumah seperti itu adanya. Akibatnya hal tersebut membuat sebagian   pihak (khususnya perempuan) menuntut hak-hak yang lebih dari gendernya atau fenomena ini bisa   disebut gender equality atau pada pihak perempuan disebut feminisme.

 Pesan dari masalah ini dan keterkaitannya dengan tiga aspek adalah, manusia seharusnya bebas   menjalankan sesuatu yang ia mau selama tidak melanggar norma dan hukum yang berlaku.
 Laki-laki mempunyai hati dan saatnya harus bersedih, mengapa ia tidak boleh menangis?
 Perempuan mempunyai jiwa dan saat ia menemukan sesuatu yang ia sukai dan ia jalani dengan   penuh semangat, mengapa harus ditahan pendidikannya?
 Kemanusiaan yang baik seharusnya tidak perlu memaksa sehingga menimbulkan perasaan tidak   nyaman bukan?

 Hal ini sebetulnya berkaitan dengan masalah selanjutnya, yaitu mengenai keyakinan dan fenomena   pasca-kebenaran. Manusia terkadang memaksakan kehendaknya agar bisa merasa benar.
 Seperti salah satu artikel medium dari Nayaka Angger yang berjudul Saya Takut Kamu Kira Tuhan   Hanya Kenal Kamu Atau Temanmu. Salah satu highlight yang menurut saya relevan adalah

 “Saya percaya bahwa orang baik adalah orang baik. Tapi sekarang, banyak yang percaya bahwa   orang yang sama adalah yang baik.”

 Namun sayangnya timbul masalah baru, manusia dengan segala kompleksitas pemikirannya   membuat ia belajar hal baru setiap saatnya dan membuat masalah yang baru lagi sehingga masalah   manusia dinamis.

 Fenomena pasca-kebenaran mungkin menjadi istilah yang masih asing di telinga walaupun   fenomena ini sedang terjadi. Pasca-kebenaran merupakan kata sifat yang merujuk pada “kurangnya   daya pikat fakta objektif dalam pembentukan opini masyarakat dibanding emosi dan prasangka”.

 Pemaksaan kehendak ini mengakibatkan keributan yang terjadi di sekitar kita seperti contohnya   adalah kasus pemilihan gubernur DKI Jakarta. Keributan tidak perlu terjadi jika manusia tidak   memaksakan kehendaknya kepada orang lain. Hal ini adalah efek nyata dari fenomena pasca-   kebenaran tentang bagaimana emosi dan prasangka lebih berpengaruh terhadap keputusan manusia   dibanding fakta objektif.

 Hubungan antar manusia dilambangkan dengan garis horizontal sedangkan hubungan manusia   dengan Tuhannya dilambangkan dengan garis vertikal. Tidak ada garis diagonal. Saya percaya   dalam memberikan nasihat kepada orang lain itu ada berbagai macam caranya, namun ada tiga cara   yang menurut saya baik untuk dilakukan. Pertama, memberikan nasihat secara langsung, tidak   memaksakan kehendak dalam penyampaiannya namun dengan senyuman dan kelembutan. Kedua,   jika cara pertama tidak berhasil, cara selanjutnya adalah mencontohkan yang baik karena manusia   mempunyai hati yang bisa luluh kapanpun. Dan yang ketiga, adalah berdoa kepada Tuhan secara   diam-diam jika kamu mempunyai Tuhan.

 Manusia mempunyai hati dan cara terbaik memanusiakan manusia adalah dengan menyentuh   hatinya.
 Kembali ke definisi bagaimana hati, jiwa, dan kemanusiaan saling berkaitan, sudah seharusnya kita   bisa berempati terhadap kondisi orang lain dengan menggunakan hati kita untuk bisa merasakan   lingkungan lebih banyak, membantu orang lebih tulus dan menjalani kehidupan dengan lebih   semangat. Terimakasih sekian dari saya.

Comments

Popular posts from this blog

Fenomena Sosial Pelanggaran Profesionalisme Yang Dilakukan Oleh Ilmuan Psikologi