Id, Ego, Super Ego Dan Hati Nurani
Muhammad Urwah Zhofron
-Id Dengan kata lain fungsi ego adalah menyaring dorongan-dorongan yang ingin dipuaskan oleh id berdasarkan kenyataan. Dan komponen yang terakhir adalah Superego. Superego adalah suatu gambaran kesadaran akan nilai-nilai dan moral masyarakat yang ditanam oleh adat-istiadat, agama, orangtua, dan lingkungan.
Freud mengatakan bahwa hidup psikis manusia ibarat gunung es yang terapung-apung di laut. Hanya puncaknya yang tampak di atas permukaan air, tapi sebagian besar gunung es tersebut tidak kelihatan karena terendam air laut. Hidup psikis manusia juga untuk sebagian besar tidak tampak atau tidak sadar, namun tetap merupakan kenyataan yang harus diperhitungkan. Maka dapat disimpulkan bahwa apa yang dilakukan manusia, khususnya yang diinginkan, dicita-citakan, dan dikehendaki, untuk sebagian besar tidak disadari oleh manusia itu sendiri. Freud mengenalkan paham “ketidaksadaran dinamis” dalam psikologi, yang artinya ketidaksadaran yang mengerjakan sesuatu dan tidak tinggal diam. Dengan itu ia mengadakan semacam revolusi dalam pandangan tentang manusia. Pada permulaan psikologi modern, hidup psikis disamakan begitu saja dengan kesadaran, berbeda dengan Freud yang berpendapat bahwa ada juga aktivitas-aktivitas psikis yang tidak disadari oleh subyek yang bersangkutan.
-Ego adalah struktur psikis yang berhubungan dengan konsep tentang diri, diatur oleh prinsip realitas dan ditandai oleh kemampuan untuk menoleransi frustrasi. Ego diatur oleh prinsip realitas yang berkaitan dengan apa yang praktis dan mungkin, sebagai dorongan dari id.
Ego atau Aku mulai berkembang dari Id melalui kontaknya dengan dunia luar. Aktivitas Ego bisa sadar, prasadar, maupun tidak sadar. Tapi untuk sebagian besar Ego bersifat sadar. Sebagai contoh aktivitas sadar boleh disebut: persepsi lahiriah (saya melihat pohon di situ), persepsi batiniah (saya merasa sedih), dan proses-proses intelektual. Sebagai contoh aktivitas prasadar dapat dikemukakan fungsi ingatan (saya mengingat kembali nama yang tadinya saya lupa). Dan aktivitas tak sadar dijalankan oleh Ego melalui mekanisme-mekanisme pertahanan (defence mechanisms), misalnya, orang yang dalam hati kecilnya sangat takut, namun pada kenyataannya berlagak gagah berani. Ego dikuasai oleh “prinsip realitas” (the reality principle), kata Freud, sebagaimana tampak dalam pemikiran yang obyektif, sesuai dengan tuntutan-tuntutan sosial, bersifat rasional, dan mengungkapkan diri melalui bahasa.
-Superego adalah bagian moral atau etis dari kepribadian. Menurut referensi lain Superego adalah aspek kepribadian yang menampung semua standar internalisasi moral dan cita-cita yang kita peroleh dari kedua orang tua dan masyarakat, penentuan nilai benar dan salah dalam segala sesuatu.
-Antara Hati Nurani Dan Super Ego
Sering kali hati nurani dikaitkan dengan “Superego”, bahkan tidak jarang kedua hal tersebut disamakan begitu saja. Istilah “Superego” berasal dari Sigmund Freud (1856-1939), dokter ahli saraf Austria yang meletakkan dasar untuk psikoanalisis. Ia mengemukakan istilah itu dalam rangka teorinya tentang struktur kepribadian manusia. Atau lebih tepat lagi, bila dikatakan bahwa ini merupakan teorinya yang kedua tentang struktur kepribadian, yang sejak tahun 1923 telah menggantikan pandangannya terdahulu. Meskipun terkena kritikan, serangan, dan penolakan yang bertubi-tubi, minat untuk psikoanalisis Freud tetap bertahan dan rasanya untuk seterusnya pun tidak akan hilang. Dalam arti ini Freud telah menjadi seorang pengarang “klasik” tentang hidup psikis manusia.
1PA07
14519476
-Id Dengan kata lain fungsi ego adalah menyaring dorongan-dorongan yang ingin dipuaskan oleh id berdasarkan kenyataan. Dan komponen yang terakhir adalah Superego. Superego adalah suatu gambaran kesadaran akan nilai-nilai dan moral masyarakat yang ditanam oleh adat-istiadat, agama, orangtua, dan lingkungan.
Freud mengatakan bahwa hidup psikis manusia ibarat gunung es yang terapung-apung di laut. Hanya puncaknya yang tampak di atas permukaan air, tapi sebagian besar gunung es tersebut tidak kelihatan karena terendam air laut. Hidup psikis manusia juga untuk sebagian besar tidak tampak atau tidak sadar, namun tetap merupakan kenyataan yang harus diperhitungkan. Maka dapat disimpulkan bahwa apa yang dilakukan manusia, khususnya yang diinginkan, dicita-citakan, dan dikehendaki, untuk sebagian besar tidak disadari oleh manusia itu sendiri. Freud mengenalkan paham “ketidaksadaran dinamis” dalam psikologi, yang artinya ketidaksadaran yang mengerjakan sesuatu dan tidak tinggal diam. Dengan itu ia mengadakan semacam revolusi dalam pandangan tentang manusia. Pada permulaan psikologi modern, hidup psikis disamakan begitu saja dengan kesadaran, berbeda dengan Freud yang berpendapat bahwa ada juga aktivitas-aktivitas psikis yang tidak disadari oleh subyek yang bersangkutan.
Freud memakai istilah “Id” untuk menunjukkan ketidaksadaran
itu. Id adalah lapisan yang paling mendasar dalam susunan psikis manusia. Id
meliputi segala sesuatu yang bersifat impersonal dan tidak disengaja dalam
daya-daya mendasar yang menguasai kehidupan psikis manusia. Tentang Id berlaku:
bukan aku (= Subyek) yang melakukan, melainkan ada yang melakukan dalam diri
aku.
Bagi Freud, adanya Id telah terbukti terutama dengan tiga cara.
Pertama, faktor psikis yang paling jelas membuktikan adanya
Id adalah mimpi. Buku pertamanya di bidang psikoanalisis justru membahas mimpi
(Penafsiran Mimpi, 1990). Tentang mimpi berlaku bahwa “bukan sayalah yang
bermimpi, tapi ada yang bermimpi dalam diri saya”. Bila bermimpi, si pemimpi
sendiri seolah-olah hanya merupakan penonton pasif. Tontonan itu disajikan
kepadanya oleh ketidaksadaran.
Kedua, adanya Id terbukti juga, jika kita mempelajari
perbuatan-perbuatan yang awalnya hanya dianggap remeh dan tak memiliki arti,
seperti perbuatan keliru, salah ucap, “keseleo lidah”, lupa, dan sebagainya.
Menurut Freud, perbuatan-perbuatan seperti itu tidak terjadi secara kebetulan,
tapi berasal dari kegiatan psikis yang tak sadar. Misalnya, Ketua DPR Austria
pernah membuka sidang parlemen dengan mengetok palunya sambil berkata, “Dengan
ini sidang saya tutup.” Maksudnya adalah “buka”, namun yang dikatakannya justru
“tutup”. Hal itu bisa terjadi karena bagi sang ketua, sidang hari itu terasa
sangat berat. Ia ingin sekali sidang itu cepat selesai. Keinginan yang tak
sadar itulah yang menyebabkannya “keseleo lidah”.
Ketiga, alasan paling penting bagi Freud untuk menerima
ketidaksadaran adalah pengalamannya dengan pasien-pasien yang menderita
neurosis. Penyakit neurosis merupakan teka-teki medis yang besar bagi kalangan
kedokteran pada waktu itu. Dari segi fisiologis, pasien-pasien itu tidak
mengidap kelainan apa-apa, namun pada kenyataannya mereka mempunyai
bermacam-macam gejala yang aneh. Freud menemukan bahwa neurosis disebabkan oleh
faktor-faktor tak sadar. Misalnya, wanita muda berumur 21 tahun yang menderita
histeria (histeria merupakan salah satu contoh neurosis) dan selama beberapa
waktu tidak bisa minum, hingga terpaksa menghilangkan dahaganya dengan makan
buah-buahan. Keadaan ini berlangsung selama kira-kira enam minggu, sampai pada
suatu hari dalam hipnosis ia menggumam tentang guru pribadinya, seorang wanita
berkebangsaan Inggris yang tidak disukainya. Dan sambil menyatakan rasa
muaknya, dilukiskannya bagaimana pada suatu hari ia memasuki kamar wanita ini
dan melihat di situ anjing kecilnya—binatang yang menjijikan—minum dari sebuah
gelas. Pasien tidak berkata apa-apa karena ia ingin berlaku sopan. Setelah
dengan hebat ia mengeluarkan kemarahannya yang sudah begitu lama disimpan dalam
hati, ia minta minuman, lalu meminum banyak sekali air tanpa kesulitan dan
bangun dari hipnosis dengan gelas di bibirnya. Sesudah itu, gangguan tersebut
hilang sama sekali dan tidak kembali lagi. Freud menemukan bahwa pasien
neurosis bisa sembuh dengan menggali kembali trauma psikis yang terpendam dalam
ketidaksadarannya.
Jika dengan Id dimaksudkan ketidaksadaran, maka Id itu
secara konkret terdiri dari naluri-naluri bawaan, khususnya naluri-naluri
seksual (misalnya, teori tentang Oedipus Complex) serta agresif, juga
keinginan-keinginan yang direpresi. Pada awalnya hidup psikis manusia terdiri
dari Id saja. Pada janin yang masih dalam kandungan dan pada bayi yang baru
lahir, hidup psikis seratus persen sama dengan Id. Id itu hampir tanpa struktur
apa pun dan secara menyeluruh dalam keadaan kacau balau. Namun demikian, Id itulah
yang menjadi bahan dasar bagi perkembangan psikis lebih lanjut. Pada mulanya Id
sama sekali tidak terpengaruh oleh kontrol pihak subyek. Id hanya melakukan apa
yang dia sukai. Freud mengatakan, “Id dipimpin oleh “prinsip kesenangan”. Dalam
Id tidak dikenal urutan menurut waktu (timeless). Hukum-hukum logika pun tidak
berlaku untuknya. Dalam mimpi sering kali kita melihat hal-hal yang sama sekali
tidak logis. Dan hal yang sama dapat dikatakan tentang gejala-gejala neurosis.
Walaupun faktor-faktor tak sadar memainkan peranan besar dalam neurosis, namun
perlu ditekankan bahwa Id atau ketidaksadaran merupakan suatu kenyataan
psikologis yang normal dan universal. Hidup psikis setiap manusia didasarkan
atas Id itu.”
-Ego adalah struktur psikis yang berhubungan dengan konsep tentang diri, diatur oleh prinsip realitas dan ditandai oleh kemampuan untuk menoleransi frustrasi. Ego diatur oleh prinsip realitas yang berkaitan dengan apa yang praktis dan mungkin, sebagai dorongan dari id.
Ego atau Aku mulai berkembang dari Id melalui kontaknya dengan dunia luar. Aktivitas Ego bisa sadar, prasadar, maupun tidak sadar. Tapi untuk sebagian besar Ego bersifat sadar. Sebagai contoh aktivitas sadar boleh disebut: persepsi lahiriah (saya melihat pohon di situ), persepsi batiniah (saya merasa sedih), dan proses-proses intelektual. Sebagai contoh aktivitas prasadar dapat dikemukakan fungsi ingatan (saya mengingat kembali nama yang tadinya saya lupa). Dan aktivitas tak sadar dijalankan oleh Ego melalui mekanisme-mekanisme pertahanan (defence mechanisms), misalnya, orang yang dalam hati kecilnya sangat takut, namun pada kenyataannya berlagak gagah berani. Ego dikuasai oleh “prinsip realitas” (the reality principle), kata Freud, sebagaimana tampak dalam pemikiran yang obyektif, sesuai dengan tuntutan-tuntutan sosial, bersifat rasional, dan mengungkapkan diri melalui bahasa.
Jadi, prinsip kesenangan Id di sini diganti dengan prinsip
realitas. Sudah merupakan tugas Ego untuk mempertahankan kepribadiannya sendiri
dan menjamin penyesuaian dengan alam sekitar, juga untuk memecahkan
konflik-konflik dengan realitas dan konflik-konflik dengan keinginan-keinginan
yang tidak cocok satu sama lain. Ego juga mengontrol apa yang akan masuk ke
dalam kesadaran dan apa yang akan dikerjakan. Akhirnya, Ego menjamin kesatuan
kepribadian atau—dengan kata lain—mengadakan sintesis psikis.
-Superego adalah bagian moral atau etis dari kepribadian. Menurut referensi lain Superego adalah aspek kepribadian yang menampung semua standar internalisasi moral dan cita-cita yang kita peroleh dari kedua orang tua dan masyarakat, penentuan nilai benar dan salah dalam segala sesuatu.
Superego adalah instansi terakhir yang ditemukan Freud.
Lama-kelamaan ia yakin bahwa di samping Id dan Ego masih harus diterima suatu
instansi lain yang seolah bertempat di atas Ego (dan karena itu dinamakan
Superego), sebab bersikap kritis terhadapnya, bahkan bisa sampai menghantam.
Superego adalah instansi yang melepaskan diri dari ego dalam bentuk
observasi-diri, kritik-diri, larangan dan tindakan refleksi lainnya, dan
tindakan terhadap dirinya sendiri. Superego dibentuk selama masa anak melalui
jalan internalisasi (pembatinan) dari faktor-faktor represif yang dialami
subyek sepanjang perkembangannya. Faktor-faktor yang pernah tampil sebagai
sesuatu yang “asing” bagi si subyek, kemudian diterima olehnya dan dianggap
sebagai sesuatu yang berasal dari dirinya sendiri. Larangan, perintah, anjuran,
cita-cita, dan sebagainya, yang berasal dari luar (para pengasuh, khususnya
orang tua), diterima sepenuhnya oleh subyek, sehingga akhirnya terpancar dari
dalam. “Kamu tidak boleh mencuri!” (larangan dari orang tua) akhirnya menjadi
“Aku tidak boleh mencuri.” “Anak perempuan tidak boleh memanjat pohon.”
(teguran dari kakak) menjadi “Aku tidak boleh memanjat pohon, karena hal itu
tidak patut untuk anak perempuan.”
Internalisasi ini adalah kebalikan dari proses psikologis
yang disebut “proyeksi’. Dalam proyeksi, keadaan batin manusia diterapkan pada
dunia luar. Misalnya, seseorang yang berwatak penakut, dimana saja ia akan
melihat bahaya. Bila berjalan di tempat gelap pada malam hari ia akan melihat
hantu. Yang dianggap “hantu” itu adalah keadaan batinnya yang diproyeksi ke
luar.
Aktivitas Superego menyatakan diri dalam konflik dengan Ego,
yang dirasakan dalam emosi-emosi, seperti rasa bersalah, rasa menyesal, rasa
malu, dan sebagainya. Perasaan-perasaan tersebut tentu dianggap normal. Tapi
bisa juga terjadi bahwa orang benar-benar disiksa oleh Superego, sehingga
baginya hidup normal sudah tidak mungkin lagi. Dan perhatian Freud diarahkan ke
Superego, terutama karena pengalamannya dengan kasus-kasus seperti itu.
-Antara Hati Nurani Dan Super Ego
Sering kali hati nurani dikaitkan dengan “Superego”, bahkan tidak jarang kedua hal tersebut disamakan begitu saja. Istilah “Superego” berasal dari Sigmund Freud (1856-1939), dokter ahli saraf Austria yang meletakkan dasar untuk psikoanalisis. Ia mengemukakan istilah itu dalam rangka teorinya tentang struktur kepribadian manusia. Atau lebih tepat lagi, bila dikatakan bahwa ini merupakan teorinya yang kedua tentang struktur kepribadian, yang sejak tahun 1923 telah menggantikan pandangannya terdahulu. Meskipun terkena kritikan, serangan, dan penolakan yang bertubi-tubi, minat untuk psikoanalisis Freud tetap bertahan dan rasanya untuk seterusnya pun tidak akan hilang. Dalam arti ini Freud telah menjadi seorang pengarang “klasik” tentang hidup psikis manusia.
Pandangan Freud tentang Struktur Kepribadian
Tubuh kita memiliki struktur tertentu: ada kepala, kaki,
lengan, dan batang tubuh. Psikis kita juga memiliki suatu struktur, walaupun
tentu tidak terdiri dari bagian-bagian dalam ruang. Struktur psikis manusia menurut
Freud meliputi tiga instansi atau tiga sistem yang berbeda. Ketiga instansi ini masing-masing adalah Id, Ego, dan Superego. Superego berhubungan
erat dengan apa yang kita sebut dalam etika dengan nama “hati nurani”. Jadi menurut saya itu berbeda.
-Fenoma Sosial Hati Nurani
Bagi setiap manusia jaman sekarang, karena berbagai masalah
yang sedang ataupun sudah terjadi. Masalah tersebut adalah masalah yang terjadi
di bidang sosial yang akan saya highlight adalah masalah tentang pendidikan
gender, keyakinan, dan fenomena pasca-kebenaran (post-truth phenomenon).
“Cowok gaboleh nangis, cowok harus kuat!”
“Cewek di rumah ajalah gausah kerja tinggi-tinggi”
Akrab dengan kalimat tersebut?
Sebetulnya masalah terjadi saat anak dididik dengan
pemaksaan opini dari orang tuanya, dan membuat anak-anak berkembang sesuai
keinginan orang tuanya, walaupun tidak bisa saya generalisir semua pendidikan
di rumah seperti itu adanya. Akibatnya hal tersebut membuat sebagian pihak
(khususnya perempuan) menuntut hak-hak yang lebih dari gendernya atau fenomena
ini bisa disebut gender equality atau pada pihak perempuan disebut feminisme.
Pesan dari masalah ini dan keterkaitannya dengan tiga aspek
adalah, manusia seharusnya bebas menjalankan sesuatu yang ia mau selama tidak
melanggar norma dan hukum yang berlaku.
Laki-laki mempunyai hati dan saatnya harus bersedih, mengapa
ia tidak boleh menangis?
Perempuan mempunyai jiwa dan saat ia menemukan sesuatu yang
ia sukai dan ia jalani dengan penuh semangat, mengapa harus ditahan
pendidikannya?
Kemanusiaan yang baik seharusnya tidak perlu memaksa
sehingga menimbulkan perasaan tidak nyaman bukan?
Hal ini sebetulnya berkaitan dengan masalah selanjutnya,
yaitu mengenai keyakinan dan fenomena pasca-kebenaran. Manusia terkadang
memaksakan kehendaknya agar bisa merasa benar.
Seperti salah satu artikel medium dari Nayaka Angger yang
berjudul Saya Takut Kamu Kira Tuhan Hanya Kenal Kamu Atau Temanmu. Salah satu
highlight yang menurut saya relevan adalah
“Saya percaya bahwa orang baik adalah orang baik. Tapi
sekarang, banyak yang percaya bahwa orang yang sama adalah yang baik.”
Namun sayangnya timbul masalah baru, manusia dengan segala
kompleksitas pemikirannya membuat ia belajar hal baru setiap saatnya dan
membuat masalah yang baru lagi sehingga masalah manusia dinamis.
Fenomena pasca-kebenaran mungkin menjadi istilah yang masih
asing di telinga walaupun fenomena ini sedang terjadi. Pasca-kebenaran
merupakan kata sifat yang merujuk pada “kurangnya daya pikat fakta objektif
dalam pembentukan opini masyarakat dibanding emosi dan prasangka”.
Pemaksaan kehendak ini mengakibatkan keributan yang terjadi
di sekitar kita seperti contohnya adalah kasus pemilihan gubernur DKI Jakarta.
Keributan tidak perlu terjadi jika manusia tidak memaksakan kehendaknya kepada
orang lain. Hal ini adalah efek nyata dari fenomena pasca- kebenaran tentang
bagaimana emosi dan prasangka lebih berpengaruh terhadap keputusan manusia dibanding fakta objektif.
Hubungan antar manusia dilambangkan dengan garis horizontal
sedangkan hubungan manusia dengan Tuhannya dilambangkan dengan garis vertikal.
Tidak ada garis diagonal. Saya percaya dalam memberikan nasihat kepada orang
lain itu ada berbagai macam caranya, namun ada tiga cara yang menurut saya baik
untuk dilakukan. Pertama, memberikan nasihat secara langsung, tidak memaksakan
kehendak dalam penyampaiannya namun dengan senyuman dan kelembutan. Kedua, jika
cara pertama tidak berhasil, cara selanjutnya adalah mencontohkan yang baik
karena manusia mempunyai hati yang bisa luluh kapanpun. Dan yang ketiga,
adalah berdoa kepada Tuhan secara diam-diam jika kamu mempunyai Tuhan.
Manusia mempunyai hati dan cara terbaik memanusiakan manusia
adalah dengan menyentuh hatinya.
Kembali ke definisi bagaimana hati, jiwa, dan kemanusiaan
saling berkaitan, sudah seharusnya kita bisa berempati terhadap kondisi orang
lain dengan menggunakan hati kita untuk bisa merasakan lingkungan lebih banyak,
membantu orang lebih tulus dan menjalani kehidupan dengan lebih semangat. Terimakasih sekian dari saya.
Comments
Post a Comment